Paris Hilton adalah sebuah fenomena. Sejak saya masih baru beranjak remaja, berita tentang Paris Hilton sering menghiasi tabloid dan majalah remaja yang saya baca. Ia memiliki segalanya. Rambut pirang, tubuh langsing semampai, wajah jelita, dan tentu saja kekayaan super keluarganya. Kakek dan ayah Paris Hilton adalah konglomerat di Amerika Serikat. Paris Hilton terlahir sebagai cucu pendiri jaringan hotel Hilton yang sudah tersebar di mancanegara. This is Paris menjadi film dokumenter yang saya acungi empat jempol.

Saya tak sengaja mengetahui film dokumenter yang tayang eksklusif di Youtube dan bisa ditonton secara gratis ini dari Instastory seorang influencer. Penasaran saja bagaimana kisah hidup sesungguhnya si pebisnis dan sosialita cantik ini di balik layar. Apalagi banyak orang di luar sana yang sering mencibir gaya dan kehidupan Paris Hilton. Berita gosip tentangnya pun sering muncul.

 

Alur yang Memikat Sejak Awal

Untuk pertama kali, saya mereview sebuah film dokumenter. Bukan karena Paris Hilton adalah idola, tetapi karena meski dibentuk dalam dokumenter, saya merasa seperti sedang melihat sebuah film yang dibuat dengan sangat profesional. Tidak kalah dengan film layar lebar. Film horor semacam Paranormal Activity pun mengusung metode ala dokumenter untuk memikat penontotn. Paris Hilton punya cerita yang lebih dalam.

Di menit-menit awal film This is Paris ini, kita akan diajak berkenalan dengan Paris hIlton sejak balita lewat potongan-potongan video.

“Sejak kecil, kedua orang tuaku selalu mendokumentasikan gerak-gerikku. Mungkin itulah sebabnya aku terbiasa dengan kamera,” kata Paris Hilton.

Lalu di paruh pertama film, kita akan diajak untuk mengikuti bagaimana Paris Hilton berkembang dari bocah tomboi pecinta hewan, menjadi remaja biang masalah. Ia mengalami banyak kejadian heboh di masa remajanya. Hingga di satu titik, Paris Hilton memutuskan untuk membangun kerajaan bisnisnya. Terbukti, meskipun tidak bekerja sebagai pengelola bisnis keluarga, Paris berhasil mengembangkan brand make-up, pakaian, dan lainnya yang tersebar di banyak negara.

 

 

“Paris Hilton adalah fenomena. Ia juga disebut sebagai influencer pertama di bumi ini.”

Paris Hilton selalu menerima pakaian dari berbagai merk yang diminta untuk dikenakan dan diunggah di medsosnya. Sampai-sampai Paris tidak akan mengenakan pakaian, sepatu, tas, dan aksesoris yang sama lebih dari dari dua kali. Situasi inilah yang akhirnya menciptakan gelombang OOTD dan menjadi cikal bakal lini bisnis baru yaitu social media influencer serta endorser.

Keluarga Paris Hilton tahu jika persona yang dibangun bintang The Simple Life itu sebenarnya membangun persona di depan kamera dan dunia maya yang berbeda dengan jati dirinya. Paris bukanlah gadis yang manja. Ia cerdas dan tangguh, namun sebuah benteng tinggi dibangun Paris di sekelilingnya.

 

 

Komentar ibu Paris Hilton

 


 

“Kadang aku merasa jika aku berperan dalam menciptakan sosok monster dari orang lain,” imbuh Paris Hilton mengenai fenomena narsisme di medsos yang saat ini makin marak.

 

Rangkaian Peristiwa Memilukan yang Menempa Paris Hilton

Sejak awal film, Paris mengatakan jika sering mengalami insomnia. Ada sebuah kejadian di masa lalu yang membuatnya mengalami PTSD. Selain itu sejak belia, Paris sering dikhianati orang-orang terdekatnya. Salah satunya yang sangat menghebohkan adalah ketika kaset video hubungan intim dengan kekasih yang pertama kali diakui publik, tersebar di masyarakat.

Ia masih sangat lugu. Dipikirnya rekaman itu hanyalah untuk konsumsi pribadi. Image Paris Hilton pun makin lekat dengan gadis kaya hobi hura-hura dan doyan berperilaku liar.



 

“Orang mengira dengan cara itu aku ingin terkenal. Padahal aku tidak ingin begitu. Tapi sejak kejadian itu, banyak video-video tape hubungan intim tersebar seolah itu menjadi salah satu cara untuk menjadi terkenal.” Ketika mengatakan itu, mata Paris Hlton berkaca-kaca.

Ia pun makin fokus untuk membangun bisnis, seolah ingin membuktikan jika dirinya mempunyai kemampuan. Pembuktian itu akhirnya mendapat banyak keberhasilan. Kini ia bisa menghasilkan jutaan dolar hanya dari satu lini bisnis, sedangkan yang ia bangun sudah belasan. Demi menghadiri banyak kegiatan, Paris hanya memiliki waktu istirahat minim. Sedihnya, mimpi buruk yang membuatnya insomnia masih sering menghampiri.

 

Bagian Paling Emosional dari Hidup Sang Sosialita

Orang tua Paris Hilton tak pernah menyetujui pilihan hidup Paris Hilton di masa ia masih remaja. Sang ibu tidak ingin putrinya menjadi model atau artis. Orang tua Paris Hilton memberi pendidikan etika terbaik kepada semua putra-putrinya. Paris Hilton yang merasa terkekang, memilih untuk memberontak. Ia sering kabur dari rumah untuk pergi ke tempat hiburan malam.

Untuk mengembalikan Paris menjadi gadis yang penurut, Paris dikirimkan ke sekolah yang diharapkan bisa mengubah kepribadian pemberontaknya. Paris pernah kabur lalu ia ditangkap dan mendapat tamparan keras dari salah satu pembina. Ia lalu berganti-ganti sekolah sampai tiba di Provo Canyon School.

 

Paris dengan kawan lama dari PCS

 

Di sinilah titik balik hidup Paris Hilton. Ia dibawa paksa ke Provo Canyon School (PCS) dan mengalami serangkaian penyiksaan fisik serta mental. Semua murid Provo diminta menghadap dinding sebagai salah satu materinya. Kemudian mereka diberi obat yang membuat pengonsumsinya merasa pusing dan disorientasi.

 


 

Paris tahu ada yang janggal dengan sekolah itu. Ia membuang obat-obatan itu, sayangnya ketahuan juga. Hukumannya, Paris dijebloskan di sebuah kamar berjeruji yang sangat gelap tanpa pakaian layak. Ia merasa kedinginan dan tertekan ditambah terdengar suara-suara menyayat dari teman-teman lain yang entah diperlakukan seperti apa.

“Yang membuatku tetap waras saat tu adalah aku terus membayangkan hal-hal apa saja yang ingin kukerjakan setelah keluar dari sekolah ini.”

Setelah lulus, Paris bergerak cepat membangun brandnya. Ia menyibukkan diri untuk terus bekerja tanpa sadar jika sebenarnya ia dihantui trauma sampai dua dekade berikutnya. Paris tak pernah menceritakan periode siksaan itu pada orang tua karena ia merasa jika ayah ibunya berperan atas penderitaan tersebut. Ia tak percaya pada mereka.

Demi mengatasi trauma, Paris mengumpulkan teman-teman lamanya di PCS. Mereka yang survive hingga lulus, berkumpul di rumah Paris untuk merencanakan sebuah gerakan. Gerakan itu disebut Break Code Silent. Dari cerita teman-teman lamanya, Paris tahu jika trauma tidak ia alami sendirian.

Film dokumenter membuat saya menyeka air mata berkali-kali sejak menit-menit awal. Paris begitu jujur terhadap perasaan serta penyesalannya. Film ini sangat cocok ditonton oleh kita yang mulai menjadi hamba popularitas media sosial. Tonton kisah Paris Hilton dengan hati dan pikiran terbuka.  Ia bercerita tentang perjuangan seorang perempuan sekaligus menyinggung dominasi laki-laki di dalam karirnya.

 


 

4 Komentar

  1. Terima kasih reviewnya. Jujur belum pernah nonton, tapi review ini sukses bikin saya trenyuh & terhanyut ke dalam ceritanya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Silakan ditonton mbak, pengalamannya akan jauh lebih menyentuh :)

      Hapus