Sebelum Iblis Menjemput Ayat 2 adalah salah satu film Indonesia yang sangat saya tunggu tahun ini. Setelah menonton film pertamanya, saya sadar jika film besutan Bang Timo ini masih membawa beberapa gaya dari film horor lain, tetapi kemasannya sangat matang, pemilihan tokoh yang sangat jempolan, dan alur cerita yang masuk akal.

Rupanya ekspektasi tinggi itu membuahkan kekecewaan besar. Saya sampai ngomel di Facebook dan berharap film ini tidak perlu dibuat sekuelnya. Pondasi cerita awal jadi pembanding, alur di film kedua ini sangat kacau, bahkan akting Alfi (Chelsea Islan) seolah berjuang sendirian karena aktor serta aktris pendukung lainnya hanya sekadar tempelan. Pengembangan emosi tokoh tidak maksimal bahkan membuat saya mengernyitkan alis hingga ending.
(Baca Juga: Review Sebelum Iblis Menjemput)

Kelebihan dari film ini ada pada setting, pengambilan gambar dengan nuansa cokelat gelap dan merah (seperti Danur ketika memasuki dunia lain), dan jumpscare yang masih mengejutkan. Bahkan scoring musiknya saja tidak semaksimal film pertama. Seolah semua model kengerian di berbagai film horor ingin dicampur jadi satu yang akhirnya hanya bisa memancing kekagetan saya  tetapi tidak meninggalkan kesan mendalam.

Tulisan kali ini ingin saya jadikan barisan pertanyaan yang membuat saya kecewa dengan sekuel ini. Mengandung spoiler ya, dan ini subyektif dari saya pribadi sebagai penikmat film (bukan kritikus film pastinya).

Pertanyaan yang Menunjukkan Kelemahan Film


Pertanyaan 1: Tidak ada 'why' yang kuat hingga cukup masuk akal untuk mendorong Alfi mau menuruti permintaan orang-orang yang baru ia kenal. Lha, gini lho, Fi, Alfi, kamu kan diculik, dibawa paksa, ngapain menuruti mereka? Simpati sekilas saja atau memang kamu nyari tantangan? Jika di film pertama kita bisa melihat bagaimana putus asanya Alfi untuk melepaskan diri dari keluarga hingga terpaksa melawan iblis yang baru ia temui. Masing-masing karakter selain Alfi punya kelemahan yang menjadi senjata agar iblisnya menguasai mereka. Lihat saja bagaimana seramnya Pevita Pearce ketika membawa senjata tajam. Apalagi sosok Karina Suwandi yang gahar.

Image result for sebelum iblis menjemput ayat 2 cast
Bingung Sejak Awal


Pertanyaan 2: Kalau di film 1 jelas sekali hal apa yang mengikat Alfi dan keluarganya hingga harus kembali ke rumah lama. Nah pas si iblis bilang "Sejak awal kau tidak bisa lari," terus ngapain nunggu Alfi gede? Ngapain nggak dimatiin sejak Alfi kecil? Apa yang membuat Alfi kebal?


Pertanyaan 3: Kenapa adiknya Alfi ekspresinya cool banget meski dikejar iblis? Apa karena ia sudah terbiasa dengan ketegangan di film sebelumnya? Sebagai anak kecil, seharusnya gangguan psikologis itu ada. Malah sosok Alfi yang lebih tidak waras dan kelihatan terguncang.


Pertanyaan 4: Oke Alfi bisa mendadak sakti dengan tangan kanan gosongnya, tapi dia belajar baca huruf setan sejak kapan? Lancar banget           Contohnya Harry Potter yang bisa bahasa ular, itu karena pas Voldemort mau membunuhnya, ternyata sihir perlindungan Lily Potter mementalkan sihir Voldemort hingga sedikit kekuatan Voldemort terserap di dahi Harpot yang berbentuk petir. Itu jadi kunci jawaban hingga seri ketujuh Harpot. Lha si Alfi? Ujuk-ujuk bikin kesel.

Image result for sebelum iblis menjemput ayat 2 cast
Makin Bingung Lagi Saat Alfi Mendadak Sakti


Pertanyaan 5: Bang Timo nggak punya gaya original. Ada Shareefa Danish kok matinya cepet banget?? Mending bikin slasher aja, Shareefa sebagai sosok ibu kanibal di Macabre lebih ikonik. Karina Suwandi di film iblis pertama itu lebih menyengat.


Pertanyaan Akhir: Ending sangat anti klimaks. Jika ingin membuat sosok Gadis (Widika Sidmore) seperti sosok Pevita Pearce, maka kekurangannya adalah tidak ada character development yang cukup untuk si Gadis. Di pertengahan film Alfi berkata jika Gadis diduga mengalami salah satu sindrom. Nah, masa iya penonton yang awam istilah psikologi harus cek Google dulu untuk paham maksudnya? Dialog cerdas jadinya mengambang. Bagi yang tidak tahu arti istilah, akan mengernyit sambil sesekali menjerit geje saat jumpscare muncul.


 Sayang sekali sebuah kesempurnaan di film pertama, harus rusak citranya di film sekuel ini. Chelsea Islan seolah harus berjuang sendirian untuk membuat film ini menarik.


2 Komentar

  1. Keren reviewnya mba... udah selevel kritikus film nih. Kita jadi kepikiran dari pertanyaannya yang muncul

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah makasii, kalau kritikus belum mencapai itu deh wkwk, sudah nonton filmnya?

      Hapus