Spider-Man: Far From Home, Tanggung Jawab Remaja yang Dibangun Solid



Spider-Man kali ini membangkitkan semua penggemar Marvel Heroes setelah sempat terharu-biru dengan ending Avenger End Game. Dari teaser yang diungkapkan, pasti akan menyentuh sebagian penggemar Iron Man, termasuk saya. Jujur saja, saya menyukai karakter Iron Man karena Robert Downey Jr yang memerankan. Sebelum saya terpikat dengan Iron Man, saya telah terpesona dengan aktingnya sebagai Sherlock Holmes di layar lebar.

Jujur saja, mulanya saya selalu membandingkan sosok pemeran Peter Parker dengan sosok Spidey modern generasi pertama yang tampan, cerdas dan kikuk si Tobey Maguire. Karakter Mary Jane atau disapa MJ yang menjadi love interest sejati Peter Parker pun sangat melekat diperankan oleh Kirsten Dunst. Karena cerita Spiderman generasi pertama itu dipenuhi karakter kompleks dan cenderung gelap, mudah sekali membuat saya bersimpati pada sosok Peter Parker yang kesepian.

Baru di film The Amazing Spiderman, sosok Peter Parker dibuat lebih ceria dan flamboyan. Dan Andrew Garfield tidak bisa mencuri hati saya meski secara keseluruhan filmnya terbilang bagus. Ketika menonton Spiderman Homecoming dengan sosok Tom Holland yang sangat relate dengan remaja masa kini plus segala kelabilannya, saya mulai terpikat. Sosok MJ yang diperankan Zendaya juga menjungkirbalikkan kesan MJ yang dulunya idola sekolah, modis namun memiliki luka masa lalu keluarga.

Meskipun terjadi perubahan karakter yang drastis, premis cerita sesungguhnya kembali ke dasar utama Spiderman. Tagline populer dari film Spider-Man versi Tobey ketika pamannya tewas adalah,”Sebuah kekuatan besar akan mendatangkan tanggung jawab besar,” juga digunakan kembali di Spider-Man: Far From Home. Pasca meninggalnya Black Widow, Iron Man dan beberapa pahlawan lain, Spidey diberondong pertanyaan tentang siapa yang akan menjadi sosok pengganti Tony Stark.




Tidak ingin dipusingkan soal itu, Peter Parker berkata kepada para wartawan jika dirinya belum tahu. Ia juga menghindari telepon Nick Fury. Di tahun terakhir sekolahnya, Peter ingin sekali saja merasakan kehidupan remaja normal tanpa dicampuri urusan kepahlawanan. Ia berlibur dengan teman sekolahnya dengan niatan tidak membawa pakaian superhero (namun Bibi May mengepak baju itu diam-diam).


Di luar dugaan, ketika berada di Italia, rombongan Peter bertemu  monster dari unsur alam yang membawa teror. Muncullah Quentin Beck yang dipanggil Misteryo dan bekerjasama dengan Nick Fury untuk mengalahkan para monster. Peter merasa keberatan ketika mendapat mandat untuk melanjutkan pekerjaan Tony Stark. Ia merasa belum layak sebagai pemimpin. Keinginannya sederhana saja, ingin mengungkapkan perasaan kepada MJ sebelum gadis pujaaannya direbut pemuda lain yang jauh lebih populer.


Melihat sosok Mysterio yang mengingatkan Peter pada kebijaksanaan Tony Stark, membuat Peter memberikan peninggalan kacamata teknologi tinggi Edith pada Mysterio. Tidak diduga, dari sinilah twist-twist cerita yang asyik membuat saya sesekali terpingkal dan berpikir. Tom Holland menginterpertasikan dengan baik sosok seorang remaja beserta intrik ego dan hormon kasmaran yang membuatnya ingin mengenyampingkan tanggung jawab.


Ada beberapa scene yang membuat saya kangen Tony Stark. Di dalam cerita ini saya jadi tahu salah satu alasan Tony memilih Peter adalah hatinya yang baik dan mementingkan orang lain, sebuah sikap yang dulunya tidak dimiliki Tony di masa muda. Di film  Iron man terdahulu, kita tahu jika sikap arogan Tony Stark turut berperan menciptakan musuh. Peter adalah sosok yang sangat membumi, ditambah otaknya yang cerdas soal sains serta teknologi menjadi bahan pendorong yang makin mantap.


Tak lupa pemeran pendukung yang ikonik seprti sahabat gembul Peter, Ned,  yang mengalami jatuh cinta singkat dengan kawannya. Bibi May yang kini makin seksi menambah segar suasana. Sosok MJ yang tomboy dan suka dengan hal-hal berbau gelap, membuat saya jauh lebih menyukai Zendaya, semenjak saya tertarik dengannya di film The Greatest Showman.


Ada beberapa adegan film yang pace-nya lamban, namun ini bisa diatasi semenjak Peter Parker akhirnya mengetahui sumebr utama masalah yang memunculkan para monster. Pengambilan gambar dengan tone lebih terang menunjukkan jika film ini jauh lebih ringan di otak dibanding Spiderman di masa Tobey Maguire. Ekspresi Tom Holland yang dinamis membuat saya betah untuk tidak melewatkan bagiannya ketika sedang mengucapkan dialog.


Film ini menunjukkan bagaimana Peter akhirnya berubah lebih siap dalam menjalani tanggung jawab sebagai seorang pahlawan super. Ini juga merepresentasikan figur remaja yang telah selesai masa bermainnya dan akan memasuki transisi dunia orang dewasa. Peter yang sebentar lagi lulus dari SMU akan memasuki dunia dewasa muda yang jauh lebih kompleks, dan lewat sosok sebagai Spiderman inilah proses itu dimulai lebih dini. Film ini layak ditonton bersama keluarga, terutama  oleh remaja.

4 komentar:

  1. Makin penasaran nih sama film ini.. jujur aku lebih suka tokoh spiderman yg sekarang

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya lebih asyik ga kuper banget hahahah tapi masih sama pinternya

      Hapus

Diberdayakan oleh Blogger.