review the marvelous mrs. maisel

 

Saya berlangganan aplikasi Prime Video demi menonton drakor yang memang tayang di sana seperti Anna dan Island. Apalagi saya menggunakan Telkomsel untuk kuota internet yang otomatis jadi satu paket dengan Prime Video tanpa harus membayar lagi. Dari sana akhirnya saya menemukan serial Hollywood yang sudah memasuki session kelima, The Marvelous Mrs. Maisel. 

Sebelum menonton, saya mencari tahu tentang serial tersebut. Ternyata, acaranya sudah tayang sejak 2017 dengan jumlah 8 sampai 10 episode setiap sessionnya. Pendek juga dan tidak membuat saya gumoh seperti jumlah sinetron Indonesia sekarang hahaha. Satu hal lagi yang membuat saya ingin menonton adalah prestasi yang dicapai oleh tim serial tersebut. 

Bayangkan saja, sejak 2018-2022, The Marvelous Mrs. Maisel masuk dalam rangkaian nominasi acara award bergengsi semacam Golden Globe Award dan Emmy Primetime Award yang menjadi tolok ukur kualitas tayangan serial. Tidak lupa pula ada Critic's Choice Award yang juga sama kerennya. Drakor Pachinko masuk nominasi di Critic's Choice dan mendapat pujian di Korsel (ya, saya belum nonton, mungkin berikutnya saja).

Pemeran utama, pendukung, tim di dalam film, hingga penulis skenario di serial ini mendapat nominasi dan juga penghargaan. Jadi, karena saya sangat suka dengan serial atau film yang award-worthy, saya putuskan untuk menonton session 1 yang berakhir menjadikan saya fans berat The Marvelous Mrs. Maisel.

Alur Tidak Membosankan, Karakter Kuat

Apa, sih, yang menjadi daya tarik utama dari sebuah film atau serial? Tentu saja karakter dan alurnya. Skenario se-ciamik apapun akan menjadi memble kalau pemeran dan alurnya tidak masuk akal. Karakter menjadi duta cerita fiksi baik tertulis dan ditayangkan dalam medium audio visual.

review the marvelous mrs. maisel
Maisel melucu di acara pernikahannya

Pembukaan serial dimulai ketika tokoh utamanya Midge Maisel (Rachel Brosnahan) sedang memberikan monolog di pesta pernikahannya dengan Joel Maisel (Michael Zegen). Mereka berdua adalah pasangan muda pemeluk agama Yahudi yang juga berasal dari keluarga berada dengan agama yang sama. Midge dan Joel bertemu ketika keduanya sama-sama berkuliah. Seperti halnya kisah anak muda dari keluarga berada tanpa masalah hidup berat, Joel dan Midge berpacaran setelah beberapa kali berkencan, kemudian selepas lulus kuliah mereka menikah. 

Satu hal yang menarik di pembukaan ini adalah terlihat sekali karakter kuat Midge yang memang memiliki bakat sebagai komika dengan sarkasmenya. Namun, empat tahun kemudian, justru Joel yang mengembangkan passion sebagai stand up comedian sepulang bekerja di kantor. Mereka tinggal di apartemen cukup mewah dengan dua anak, putra dan putri. Terlihat sempurna, bukan?

Dalam satu episode, kita mengetahui bagaimana sempurnanya hidup Midge hingga keretakan yang terlihat ketika Midge mengetahui bahwa Joel melakukan plagiasi naskah komika yang ditampilkan di Gaslight. Gaslight adalah sebuah bar yang menerima para seniman untuk unjuk gigi. 

Joel merasa bahwa membawakan kembali materi orang lain bukanlah masalah, terlihat jelas jika ia tidak seberapa serius berusaha untuk menjadi komika berkualitas. Ketika ada masalah di Gaslight soal pengunjung yang tidak tertawa dengan materinya, Joel menyalahkan Midge. Ia bilang jika Midge membuatnya tidak bisa tampil sempurna. 

Padahal, demi mendapatkan slot tampil lebih dulu, Midge harus pontang-panting membuat masakan di sela waktu mengurus anak dan menjadi pendengar semua materi Joel ketika dipentaskan. Masakan Midge digunakan untuk 'menyuap' manajer Gaslight. Di waktu itu jugalah pertengkaran hebat Joel dan Midge terjadi hingga Joel mengaku jika ia selingkuh dengan sekretarisnya. Ia pergi meninggalkan keluarganya meski Midge sempat memohon agar tidak ditinggalkan. Cerita bergerak cepat dan membuat hati saya ikut sedih melihat keputusasaan Midge.


Isu yang Diangkat pun Relevan

Saya lebih sering menonton drakor daripada serial lokal dan Barat. Ada beberapa serial Barat yang saya suka seperti 13 Reasons Why, La Brea, dan The Last of Us. Beda halnya dengan film. Saya lebih sering menonton film Hollywood atau Eropa ketimbang film Asia. Nah, bagi saya, The Marvelous Mrs. Maisel ini menyajikan kesegaran dalam mengangkat topik yang masih relevan untuk isu di berbagai negara.

Pencarian jati diri seorang IRT

Midge tidak pernah menyeriusi karir sebagai seorang komika meskipun ia sering menyampaikan monolog lucu dan satir penuh kecerdasan. Baginya, seorang perempuan itu kuliah untuk menemukan calon suami yang memiliki masa depan cerah dengan latar belakang bagus, lulus, menikah, dan membangun keluarga sempurna. 

Ayah ilmuwan yang belum tahu
putrinya jadi komika



Hidup Midge limbung seketika saat Joel keluar dari apartemen mereka. Terlebih lagi ketika ia mengadu kepada kedua orang tuanya. Midge malah mendapat komentar semacam ini. "Apakah kamu jarang berdandan? Apakah kamu masih memasak untuknya?"

Stigma bahwa kegagalan dalam pernikahan gara-gara kurang berkompetennya seorang istri ternyata juga ada di Barat sana. Ya, kita berbicara dari segi keluarga Yahudi di Amrik pada 1950-an. Ini sangat relatable pada masyarakat patriarki toksik yang ada di sekitar kita. Midge akhirnya melakukan beberapa kekacauan di Gaslight sampai ditangkap polisi untuk pertama kalinya. Dari situlah Susie (Alex Borstein), pegawai Gaslight, mendorongnya untuk menjadi komika perempuan.

Karir perempuan dan laki-laki

Joel dan Midge tidak langsung bercerai. Mereka hanya hidup terpisah sementara waktu dengan harapan dari kedua orang tuanya agar segera rujuk. Midge tidak percaya diri pada dukungan Susie (Alex Borstein). Ia merasa jika seorang ibu rumah tangga tidak punya kesempatan untuk menjadi sesukses laki-laki. Apalagi stand up comedy kebanyakan masih dikuasai pria.

Setelah hidup terpisah dan kembali tinggal di rumah orang tuanya, Midge tidak ingin hidup ongkang-ongkang kaki. Ia niat bekerja dan diterima sebagai pramuniaga sebuah mal. Padahal, Midge memiliki ijazah Sastra Rusia. Tidak adanya pengalaman bekerja formal membuat Midge mencari lowongan apa saja bahkan ia sempat ingin menjadi penjaga lift.

Persahabatan dua perempuan beda dunia

Yang paling menonjol dari sosok Midge dan Susie adalah perbedaan hidup mereka. Susie yang berpenampilan tomboi dan hidup di apartemen sempit mempunyai hidup bertolak belakang dengan Midge. Namun, ia tidak pernah iri. Malah Susie mendorong Midge untuk menjadi versi terbaik dari dirinya, ia justru tidak ingin dikasihani. Sementara itu, Midge memandang Susie sebagai sahabatnya, tidak sekadar manajer saja. 

Midge-Susie, Peraih Emmy Award



Di sinilah saya bisa melihat makna woman supports woman sesungguhnya. Meskipun penampilan keduanya berbeda dan Midge terkesan punya lingkungan yang lebih terjamin, Susie tidak pernah iri sama sekali. Ini yang membuat mereka bisa mulai maju bersama.

Saya juga sangat menyukai keluarga Midge yang sangat kocak. Serial ini sarat dialog yang disampaikan dengan sangat cepat, tetapi maknanya tetap menyentuh. Saya ikut tertawa tiap kali Abe, ayah Midge, berinteraksi dengan istrinya. Saya juga suka sekali dengan busana yang dikenakan tokoh perempuan di serial ini, maklum saya penggemar dress klasik ala 50 sampai 60-an.




Setelah season 1 selesai, saya memutuskan untuk menjadi penggemar serial The Marvelous Mrs. Maisel. Bagi kamu yang ingin mendapat hiburan menyentuh, cerdas, dan juga satir, tontonlah serial ini di aplikasi Prime Video dan jangan nonton versi bajakan, ya.


2 Komentar

  1. cm ada di prime ya, kalo di netflix ada g ya. penasaran pen nonton

    BalasHapus
    Balasan
    1. Memang hanya di Prime, soalnya ini originalnya :D

      Hapus

Silakan berkomentar dengan sopan tanpa menyinggung SARA, ya ^_^