review tunnel indonesia-wordholic.com
Tigor dan Tito di Poster Utama


Saya adalah pecinta drakor. Bayangkan saja, sejak masih duduk di kelas 4 SD, Mama menceoki saya dengan drama Asia termasuk drama korea. Seiring berjalannya waktu saya sangat menyukai genre fantasi, romantic-comedy, dan thriller. Jika di antara ketiga genre tersebut dipadukan dua bagian saja, biasanya drama akan berjalan lebih menarik.

Sayangnya kini di Indonesia kita masih kekurangan serial berkualitas seperti itu. Saya bahkan rindu sinetron tenar seperti Keluarga Cemara, Kupu-Kupu Kertas, dan Si Doel yang tidak perlu syuting kejar tayang dengan pakem cerita yang dekat dengan keseharian. Untungnya dengan era layanan streaming di gawai, sineas Indonesia mulai mecoba untuk memproduksi serial lokal yang sangat berkualitas. GoPlay—layanan streaming yang satu perusahaan dengan Gojek—mereproduksi ulang salah satu drakor tema crime-thriller-fantasy populer berjudul Tunnel.

 


Alur Sama Tanpa Melupakan Unsur Lokalitas

Kebetulan saya belum menonton Tunnel, namun sebelum menonton Tunnel Indonesia, saya membaca sinopsis lengkap tiap episode Tunnel versi drakor. Di Tunnel Indonesia ada tiga pemeran utama yang memiliki kecakapan mumpuni untuk membongkar misteri pembunuhan berantai di Yogyakarta.


Kasus Pertama di Tahun 1990


Cerita dibuka di tahun 1990. Seorang polisi pemarah yang juga tangguh bernama Tigor (Donny Alamsyah) menangani kasus pembunuhan berantai yang semua korbannya perempuan. Kasus itu mengalami jalan buntu sampai si Tigor memutuskan untuk menyelidiki lebih lanjut di TKP terakhir ditemukannya mayat. Tigor bertemu dengan seorang misterius, belum sempat ia menangkap, kepala Tigor dipukul. Ajaibnya, ia terbangun di masa 30 tahun kemudian ketika Yogyakarta sudah memasuki tahun 2020.

Tak hanya menceritakan alur yang penuh ketegangan dan teka-teki, Tunnel Indonesia juga memberikan nuansa humor segar. Lucu sekali melihat Tigor yang di masanya masih menggunakan pager, kebingungan ketika melihat smartphone. Dan pertengkaran-pertengkaran tidak penting antara Tigor dan Tito (Andri Mashadi), rekannya di tahun 2020 yang juga sama-sama pemarah, membuat serialnya jadi makin hidup. Bersama dengan seorang psikolog yang bertindak sebagai profiler kasus,  Sita (Hana Malasa), trio ini mulai membongkar kasus pembunuhan berantai yang mirip dengan kasus 1990.


review tunnel indonesia-wordholic.com
Totalitas Para Polisi Keren


Saya suka dengan dialek Jawa para polisi Yogyakarta dan masyarakatnya serta gaya ngegas Tigor dengan logat bataknya. Tidak terasa ada aura drakor. Ada juga unsur ritual sesajen yang terkait dengan seluruh korban pembunuhan, sehingga membuat saya makin penasaran dengan alasan pembunuhnya.


review tunnel indonesia-wordholic.com


 

Estetika yang Berkualitas

Proses syuting Tunnel Indonesia diselesaikan sebelum tayang di GoPlay. Ini berbeda dengan konsep sinetron yang syuting sambil episodenya tayang di televisi. Proses pembuatan Tunnel Indonesia menyerupai produksi film. Kita juga bisa mengetahui di masa mana ceritanya lewat tone pengambilan gambar berbeda. Ketika kita memasuki cerita tahun 1990, tone gambar akan lebih cokelat dengan nuansa vintage. Sedangkan tahun 2020, warna gambar akan lebih tajam. Penulis juga tidak melupakan detail kecil seperti pager di 1990 dan smartphone di 2020. Perbedaan ini membuat Tigor mengalami kehadian-kejadian konyol.


review tunnel indonesia-wordholic.com
Hana Malasa yang Menjadi Sita di tengah


Meskipun sinematografinya memiliki estetika bagus dan ketiga pemeran utamanya keren, saya masih merasa jika pemeran pendukung lainnya seperti rekan Tito di kepolisian belumlah maksimal. Untuk tokoh Ki Slamet pun saya kurang merasa keseramannya. Untungnya sosok pembunuh utama di tahun 1990 dan 2020 bisa membuat saya jengkel dan emosi ketika muncul, berarti dia sukses membuat saya penasaran. Saya juga terharu dengan perjuangan Tigor mencari sosok istrinya Ambar. Dan sosok Ambar inilah yang menjadi kunci keberhasilan terbongkarnya kasus meski ia meninggal sebelum tahun 2020.

 

Semoga ada lebih banyak serial berkualitas yang dibuat di Indonesia. Serial original tanpa perlu mengadaptasi dari drakor juga pasti bisa dibuat seperti The Publicist di Viu misalnya. Good luck, sineas Indonesia!

 


2 Komentar