Review Joker Movie: Dia Hanya Sedang Sakit





Saya adalah penyuka DC, salah satu alasannya adalah karena DC memiliki tokoh villain yang sama populer dan ikonik seperti para superheronya. Lihat saja contohnya, baru DC yang bisa membuat Harley Quinn—kekasih Joker—menjadi tokoh yang punya banyak fans. Para penjahat yang punya basis penggemar, itulah sebabnya ketika Joker dirilis tahun ini, saya memiliki pengharapan tinggi.

Sebelum filmnya beredar, banyak yang waswas apakah Joaquin Phoenix bisa memerankan Joker sebagus Heath Ledger? Minimal apakah dia punya kans untuk tampil sama kerennya dengan pemeran Joker lainnya? Jika diperhatikan, beberapa pemeran Joker di film-film DC Universe sebelumnya, rata-rata berprestasi dengan menyabet piala Oscar di bidang Supporting Role. Salah satu aktor Joker yang juga peraih Oscar adalah Jared Leto. 
 (Baca Juga: Suicide Squad, Berkumpulnya Penjahat Baper

Film dibuka dengan adegan yang sudah membuat hati miris. Arthur Fleck (Joaquin Phoenix) sedang merias wajahnya, sorot matanya menunjukkan kesedihan teramat sarat. Saat sedang bekerja sebagai badut penghibur pun ia harus menghadapi kerasnya kehidupan kota Gotham. Melihat kondisi lingkungan Arthur, maka hal yang wajar jika akhirnya ia mengalami depresi dan delusi. Pekerjaan yang tidak menghargai etos kerjanya ditambah ibu sakit-sakitan yang harus ia rawat sendiri, menambah tekanan mental Arthur.



Arthur sadar betul jika dia butuh bantuan makanya dia rutin minum obat dan mengunjungi psikiater di sebuah layanan sosial. Ia juga memiliki penyakit gangguan saraf yang membuatnya tidak bisa mengontrol tawa. Arthur membawa kartu yang menjelaskan kondisi penyakitnya di saat orang lain mengernyit aneh mengapa ia terbahak-bahak tanpa alasan.

Kesuraman Bukan Untuk Diromantisasi

Film ini menggunakan teknik pengambilan gambar yang cenderung suram. Detail-detail wajah Arthur dengan perubahan emosinya bisa diekspos dengan baik. Sulit untuk mencari cela dari aktingnya. Memang ini film untuk Joker saja, aktris dan aktor lain yang tampil tidak menunjukkan proporsi peran yang besar. Kita diajak untuk membangun empati pada perubahan Joker dari seorang pria penderita mental illness parah hingga bertransformasi menjadi sosok villain manipulatif. Semua pemicu diungkapkan perlahan, makanya film ini tidak cocok untuk remaja di bawah 18 tahun.

Joker bukanlah orang jahat yang terlahir karena dulunya baik dan terlalu sering disakiti. Jika penonton mau jeli dan tidak terpengaruh dalam batas hitam putih baik dan buruk, Arthur memang sakit. Karena kurangnya dukungan dari keluarga dan lingkungan terdekatnya, sakit di hati dan pikiran itu akhirnya mewujud menjadi bibit kejahatan. Andai dia dibesarkan di keluarga Bruce Wayne dengan fasilitas mewah dan dukungan materi yang berlimpah, mungkin Arthur akan berubah menjadi superhero layaknya Batman.

Arthur memiliki mental illness, miskin, dan kurang kasih sayang. Ketiga hal tersebut adalah kondisi yang tidak ia minta. Andai ia kaya dan punya kekasih atau orang tua yang mau menjadi pelindungnya, meski di tempat kerja ia diperlakukan tidak adil, mungkin Arthur masih bisa survive. Dan sebagai penonton seharusnya jangan berpikir terlalu sederhana. Film ini membutuhkan renungan panjang juga dalam.



Di bagian klimaks kita tahu bagaimana katup penahan Arthur akhirnya benar-benar terlepas. Apalagi setelah tahu sejarah asli ibunya dan delusi yang menyertai dirinya. Ketika semua katup terlepas, lahirlah Joker dengan sempurna.

Dia Hanya Sedang Sakit

Jika menonton Joker versi kartun dan di film sebelumnya, kita akan tahu bagaimana ia mudah membuat manipulasi kejadian yang menguntungkan dirinya. Ia adalah psikopat yang punya otak cerdik. Masalahnya ia tidak merasa jika tindakannya salah. Asas moral tidak berlaku untuk Joker yang terlampau parah penyakit mentalnya.



Di film Joker kali ini pun kita tahu bagaimana puasnya Arthur melihat masyarakat Gotham bertopengkan badut dan melawan hirarki  orang-orang kelas atas yang sebenarnya tak peduli pada mereka. Pembunuhan orang tua Bruce Wayne adalah contohnya. Seperti biasa, DC selalu menyelipkan kritik sosial di dalam filmnya. Tidak seperti Aquaman dan Wonder Woman yang memiliki tingkat keceriaan lebih banyak, Joker adalah film yang DC banget.

Akan ada yang membenci Joker atau juga malah mengasihaninya. Berhati-hatilah, jika Anda memiliki riwayat mental illness, maka jangan menonton film ini kalau memang merasa bisa memicu hal negatif. Apakah saya merasa sesak ketika menonton? Biasa saja sih. Itu karena saya sedang dalam kondisi netral. Mungkin jika sedang jengkel dan patah hati maka saya pikir ulang sebelum menonton.



2 komentar:

  1. Aku belum nonton sih, pengen tapi was-was Karena belum terbiasa nonton film serupa. But, thanks for the review .Hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau nggak siap mending dipertimbangkan mbak, hehe. Semoga suka kalau sudah liat yaa

      Hapus

Diberdayakan oleh Blogger.